oleh

Selamat Hari Jadi Kota Palembang ke 1339 th

Caption : Gubernur DKI Jakarta ucapkan Selamat Ulang Tahun Kota Palembang ke 1399 th

PALEMBANG-Hari ini dalam sejarah, tepatnya tanggal 17 Juni, merupakan hari lahir Kota Palembang. Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, yang merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya, Kota Palembang adalah kota tertua di Indonesia, yang usianya telah menyentuh angka 1.339 tahun.

Sejarah Kota Palembang sendiri bermula ketika penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Palembang. Menurut topografinya, kota ini dikelilingi, bahkan terendam oleh air yang bersumber dari sungai, rawa, maupun air hujan.

Hingga saat ini, Palembang masih terdapat sekitar 52,24 persen tanah yang tergenang oleh air. Hal itu yang kemungkinan menyebabkan kota ini dinamakan Palembang.

Nama Palembang berasal dari kata ‘Pa-lembang’, di mana Bahasa Melayu ‘Pa’ atau ‘Pe’ merujuk pada suatu tempat atau keadaan, sedangkan ‘lembang’ berarti lembeng atau tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air.

Jadi, Palembang bisa juga diartikan sebagai suatu tempat yang digenangi oleh air. Nenek moyang orang-orang Palembang memanfaatkan kondisi alam tersebut sebagai sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien, serta punya daya jangkau dan kecepatan yang tinggi.

Letak kota ini juga berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara 3 kesatuan wilayah, yaitu tanah tinggi Sumatera bagian barat (Pegunungan Bukit Barisan), daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah, serta daerah pesisir timur laut.

Ketiga kesatuan wilayah tersebut menjadi faktor yang menentukan pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban dan berhasil mendorong manusia setempat untuk menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan yang tinggi di Sumatera Selatan.

Itulah alasan yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Pada zaman madya, Kerajaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darussalam sebagai kesultanan yang disegani di kawasan Nusantara.

BACA JUGA :  Selamatkan Uang Negara,Polda Jabar Terima Penghargaan dari Menteri Sosial RI

Di kronik Cina, Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke-14, ada tulisan menarik yang menceritakan Sriwijaya, yang berbunyi:

“Negara ini terletak di laut selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu, pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu-perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan aman kembali, rantai itu disingkirkan.

Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah di pelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya negara itu menjadi pusat pelayaran.”

Setelah mengalami kejayaan di abad ke-7 hingga 9, pada abad ke12 Kerajaan Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerjaan Cola dari India, serta bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.

Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian kecil dari Kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.(ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed