oleh

Akun Diretas BEM KM UNNES dapat Tekanan Rektorat Usai Kritik Presiden, Wakil Presiden dan Ketua DPR RI

SEMARANG-ANTERO-Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (BEM KM Unnes), Wahyu Suryono Pratama mengaku mendapatkan tekanan dari rektorat usai mengkritik Presiden Joko Widodo, Wapres Maruf Amin, dan Ketua DPR RI Puan Maharani di media sosial.

Wahyu mengungkapkan setelah kritik itu diunggah di akun @bemkmunnes, sekitar pukul 10.29 WIB Wakil Dekan 3 sekaligus Koordinator Kemahasiswaan Unnes, Wirawan Sambodo mengirimkan pesan tendensius via WhatsApp kepada Wahyu, isinya; 

“Kalau bisa BEM KM tidak dijadikan kendaraan Parpol atau oposisi….pikirkan masa depan mhs Unnes utk hidup di. Masyarakat” Tambah lagi Mohon siang ini ketemu saya….jangan sampai berhadapan masa PDI….mohon ditarik dulu,” ungkap Wahyu dalam keterangannya, Rabu (7/7/2021).

Di waktu yang sama, Pembina BEM KM Unnes 2021, Rusyanto juga memohon Wahyu melalui WA untuk tidak ikut BEM lain yang sebelumnya juga mengkritik pemerintah.

“Mas Wahyu, sebaiknya dalam berekspresi tidak usah ikut2 kampus lain njih, hati2 mas Wahyu, jejak digital tidak akan hilang, mohon dipikirkan njih dgn tim, tks” kata Rusyanto disampaikan Wahyu.

Tak lama berselang, Rektor Unnes Fathur Rokhman juga mengontak Wahyu melalui WA untuk mencabut postingan yang menurutnya bernuansa penghinaan dan pelecehan agama.

“Mas mohon dipertimbangkan matang-matang dg nuranimu. Unggahan ini bernuansa penghinaan dan pelecehan agama. Sebagai Rektor saya minta Ketua BEM UNNES untuk menurunkannya. Mohon unggahan yang edukatif,” pesan Fathur disampaikan Wahyu.

Menurut Wahyu, tiga pesan tekanan dari rektorat Unnes ini berlebihan dan diluar akal sehat, sebab kritik mereka berbasis data dan dapat dipertanggungjawabkan.

“BEM KM UNNES menegaskan bahwa apa yang BEM lakukan adalah bagian dari kebebasan berekspresi dan kebebasan akademik yang dilindungi oleh konstitusi dan Undang-Undang. Bahkan , kritikan itu bersifat sangat wajar dalam tradisi negara demokrasi,” tegas Wahyu.

BACA JUGA :  Pembangunan PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 Mencapai 84%

Akun instagram @bemkmunnes juga mendadak hilang diduga diretas usai mengkritik Presiden Joko Widodo, Wapres Maruf Amin, dan Ketua DPR RI Puan Maharani.

Wahyu merasa prihatin dengan kondisi seperti ini sebab ketika kritik disampaikan maka akan berlanjut dengan tindakan represif baik langsung maupun secara digital.

“Negara ini sedang tidak baik-baik saja, negara ini harus dirawat dengan perlawanan,” seru Wahyu.

Sebelumnya, @bemkmunnes mereka membuat meme dan menjuluki Presiden Joko Widodo atau Jokowi: “The King of Lip Service“, Wapres Ma’ruf Amin: The King of Silent”, dan Ketua DPR RI Puan Maharani: The Queen of Ghosting.

BEM Unnes menilai kinerja Ma’ruf Amin sebagai wapres tidak terlihat di masa pandemi Covid-19, seharusnya juga turut mengisi kekosongan peran yang tidak mampu ditunaikan oleh presiden.

Puan Maharani dijuluki The Queen of Ghosting, karena produk legislasi yang dihasilkan DPR saat ini dinilai tidak memihak rakyat.

Sementara Jokowi juga mereka juluki The King of Lip Service seperti julukan yang diberikan BEM UI, karena mengingkari janji politiknya dan tidak becus menjalankan tugasnya sebagai kepala negara.

Dalam meme-nya, BEM Unnes juga menyinggung isu Presiden Jokowi 3 periode dengan turut mencantumkan foto Presiden kedua RI, Soeharto.

Akun Instagram Lenyap

Akun instagram BEM KM Unnes mendadak hilang diduga diretas usai mengkritik Presiden Jokowi, Wapres Maruf Amin, dan Ketua DPR RI Puan Maharani.

Presiden BEM KM Unnes, Wahyu Suryono Pratama mengatakan akun @bemkmunnes mulai hilang sejak pukul 16.00 WIB, saat ditelusuri akun tersebut sudah tidak tersedia.

“Akun instagram official BEM KM UNNES diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Akun instagram tersebut dinonaktifkan dan seluruh postingan di Instagram tersebut terhapus,” kata Wahyu dalam keterangannya, Rabu.

BACA JUGA :  KPK OTT Pejabat Kementerian Sosial Terkait Program Bansos

Wahyu merasa prihatin dengan kondisi seperti ini sebab ketika kritik disampaikan maka akan berlanjut dengan tindakan represif baik langsung maupun secara digital.

“Kejadian ini seolah sudah menjadi tradisi ketika orang atau lembaga melakukan kritik berbalas dengan serangan balik secara digital. Seharusnya, ada jaminan terhadap kebebasan berekspresi baik di ruang nyata maupun maya,” tegasnya.

“Negara ini sedang tidak baik-baik saja, negara ini harus dirawat dengan perlawanan,” seru Wahyu.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed