oleh

Tradisi Melemang Sambut Bulan Muharam 1443 H

MUARA ENIM-ANTERO-Salah satu tradisi unik yang dilakukan secara turun-temurun masyarakat Desa Muara Lawai Kecamatan Muara Enim setiap bulan Muharam yaitu kebiasaan melemang.

Halimah (37), salah satu warga Muara Lawai yang melakukan kegiatan melemang pada Sabtu malam minggu (21/08) mengatakan, melemang sudah menjadi tradisi masyarakat Desa Muara Lawai Kecamatan Muara Enim sejak turun temurun dari sejak nenek moyang atau puyang”katanya.

Kegiatan melemang di laksanakan masyarakat Desa Muara Lawai setiap memasuki bulan Muharam atau tepat pada malam 13 Muharam 1443 H.

“Tahun ini karena masih PPKM, melemang dilakukan di rumah masing-masing hanya bersama keluarga saja. Karena masih dalam kondisi Covid-19, namun karena sudah tradisi turun-temurun warga tetap menggelar melemang,” ujar Halimah.

Melemang sangat melekat di Masyarakat Desa Muara Lawai Kecamatan Muara Enim itu.

Bahan pembua lemang terdiri dari beras ketan di campur santan kelapa,pisang dan udang kering lalu dibungkus dengan daun pisang, setelah itu bahan di masak dengan cara di arun lalu rebus setelah itu di panggang di dalam bambu muda panjangnya sekitar 40 cm hingga 50 cm.

Lalu bambu yang sudah diisi dengan beras ketan itu kemudian di rebus di atas bara api dengan cara diletakkan di tiang lalu dibolak-balik hingga matang.

“Hampir semua rumah melemang setiap menyambut bulan Muharam, kegiatan seperti ini sebagai wujud rasa syukur Masyarakat kepada Allah SWT, atas semua rahmat dan hidayah bagi Masyarakat.

“Biasanya Masyarakat juga menggelar acara doa bersama,”imbuh Halimah.

Untuk melemang, Kata Halimah, tahun ini dia memasak beras ketan sebanyak 28 kilogram yang menghasilkan lebih 100 potong bambu.

Melalui kegiatan melemang seperti ini bisa meningkatkan silahturahmi antara warga, dan mempererat persaudaraan.

BACA JUGA :  Kapolda Sumsel : Tertangkap Tangan Bawa Sabu Briptu RP di Proses Hukum

Ia berharap juga kepada generasi muda khususnya di Desa Muara Lawai untuk turut ikut melestarikan budaya melemang ini kedepan sebagai warisan budaya yang ditinggalkan para leluhur.

“Dengan kondisi yang ada, kami masih mengikuti budaya melemang ini. Maka saya mengharapkan kepada generasi muda Desa Muara Lawai untuk ikut serta terlibat dalam setiap kegiatan melemang yang di lakukan setiap satu tahun sekali ini,”kata Halimah.

Ditambahkan Kepala Desa Muara Lawai, Edi Wanseri menjelaskan, untuk tahun ini Pemerintah Desa Muara Lawai tidak melaksanakan acara melemang seperti pada tahun-tahun sebelumnya dikarenakan masih pada masa PPKM Covid-19.

Namun pihaknya tidak bisa melarang warga yang melemang, asal mematuhi prokes Covid-19.

“Melemang tahun ini tidak seperti pada tahun-tahun sebelumnya, selain kami himbau, kondisi ekonomi warga yang membuat tidak banyak warga melaksanakan adat melemang,” ujarnya.

Moment acara melemang adalah salah satu dalam rangkaian memperingati hari besar agama Islam Bulan Muharam, lazimnya Desa Muara Lawai diadakan pada malam 13 Muharam, dan acara puncaknya malam 14, diadakan perjamaahan di rumah ketua adat, yang diikuti sumbai–sumbai adat. 

“Selanjutnya melemang ini adalah wujud rasa syukur atas hasil dari pertanian Masyarakat yang menghasilkan buah yang dapat untuk kesejahteraan masyarakat.

Kemudian pada acara puncak diadakan ulasan sejarah kepuyangan yang di miliki Desa Muara Lawai dan membacakan turunan Jurai-jurai pemangku adat, dan masalah sanksi adat apa bila dilanggar Masyarakat itu sendiri.”tutupnya.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed